Selasa, 19 Desember 2017

Homeschooling Hani pengidap cytomegalovirus


  Seperti hari2 sebelumnya..Hari ini jadwal reservasi Hani ke tempat om terapis wicaranya..saya tidak ikut mengantarnya karena Quinsa masih kurang enak badan. Semoga hari ini Hani mau terapi meskipun tidak saya dampingi..

   Di rumah saya sibuk menggendong dan membersihkan muntahan Quinsa karena batuknya,, Quinsa pernah terdiagnosis pneumonia akut jadi begitu ada gejala batuk sedikit saja saya harus waspada, jangan sampai batuknya berkembang menjadi asma bahkan pneumonia.

Beberapa menit berlalu.
Skitar 30 menit kemudian...

"Maaaaa Hani pulan maaa.." saat itu Hani masih belum bisa mengucapkan kata"pulang"
"Ooh sini sayaaang..salim dulu sm umma..kok cepet banget terapinya?"

Hani cuma senyum2 saya tanyain..biasanya kalo saya dampingi terapinya sampai 1 jam..ini baru 30 menit sudah pulang.

  Tiba2 HP saya berbunyi...
Ada pesan singkat dari om TW nya Hani...begini isi pesannya"Homeschooling aja bu,panggil guru privat kerumah..".

Apaaa, homeschooling itu apa?sekolah seperti apa? gurunya siapa?
Akhirnya serta merta saya telfon om terapisnya Hani..ada buku panduan HSnya tidak, ada guru privat buat anak seperti Hani tidak, dll..agak lupa saya dengan percakapan di telfon..saat itu sudah 1 tahun yang lalu.

   Intinya sih Hani gak bakalan bisa ngikutin pelajaran kalo disekolahkan di sekolah umum, jadi alangkah baiknya kalo Hani diasuh & dididik dengan sistem homeschooling yang mempunyai jam belajar yang fleksibel, lebih bisa melejitkan potensi minat & bakat Hani sejak dini sehingga semoga suatu saat nanti Hani bisa kuliah di fakultas yang disukainya.
Semoga...

   Hari berganti bulan berlalu..perkembangan bahasa Hani menunjukkan hasil yang begitu memuaskan untuk ukuran anak CMV. Hani sudah bisa mulai dilatih berhitung, mewarnai, menebalkan titik-titik, dan menghafal surat-surat pendek juz 'amma.

   Semenjak itu pula saya sudah mulai bergabung dengan banyak komunitas seperti Rumah Ramah Rubella di fesbuk, Healing luka pengabaian di wa, komunitas HS di telegram, komunitas IIP..yang sekarang baru saja mengisi form pendaftaran Matrikulasi batch 5 dan masih menunggu email konfirmasinya. 

Sebuah komunitas yang mendidik seorang ibu agar mengerti peran dan fungsinya dalam sebuah keluarga. Komunitas yang telah dinantikan oleh ribuan orang di malam pembukaan form pendaftaran ini, 22 Desember 2017, bertepatan dengan hari ibu.

   Tepat pukul 18.00 tadi sore saya sudah memegang gadget agar tidak telat mengisi form pendaftaran..sungguh sebuah Institut online yang luarrr biasa. Dalam waktu 4 jam saja formulir email pendaftar yang masuk sudah 2000 an. Berbeda jauh dengan beberapa tahun lalu yang pendaftarnya baru kisaran sekian ratus ibu dan calon ibu.

  Hari ini tanggal 24 Desember saya baru membuka email lagi, dan alhamdulillaah sudah ada email konfirmasi bahwa saya diterimaaa..
Inilah awal dari perjalanan saya bersama komunitas IIP Semarang.

Malam ini saya membuka status WA dan ada sebaris status dari salah satu member IIP Pekalongan. Yaitu tentang SMANKA, tentang basket..saya suka sekali dengan olahraga basket walaupun dulu nilai olahraga saya tak pernah lebih dari angka 7, seingat saya sihhh..hehe.

SMANKA itu tempat saya dulu bersekolah, salah satu SMA favorit di kabupaten Pekalongan. Sekolah yang meninggalkan berjuta kenangan,

Masa-masa paling indah..
Masa-masa di SMA..
kata om Crisye.

Usut punya usut ternyata kita satu angkatan,,,
Hihihiii..ternyata dunia ini begitu sempit yaa, kemanapun saya pergi selalu ketemu sama alumni SMANKA.

  Flasback sebentar tentang asal-muasal kelahiran Hani dan Quinsa diawali dengan diperkenalkannya saya dengan abahnya Hani yang saat itu sudah berumur 48 tahun, seorang duda anak 3 dengan background pendidikan S1 fakultas Syari'ah Islam di IAIN..beliau dulu kakak kelasnya mantan bupati Pekalongan, ibu hj.Qomariyah (lupa gelarnya beliau apa saja sihh? ) Sedangkan saat itu saya masih gadis perawan ting-ting usia 21 tahun.

Entah kenapa sejak diperkenalkan saya sudah merasa nyaman dan merasa ada seseorang yang akan menjaga dan melindungi saya.Saat itu sebenarnya saya harus menyelesaikan tugas saya sebagai guru TPQ, cuma saya ingin menjenguk orangtua saya dahulu di kampung halaman saya, pegunungan nan sejuk bernama Paninggaran. Beliau setengah memaksa saya agar bisa mengantarkan saya pulang memakai mobil.

Ssttt, bukan mobil sendiri yaa, hihi..
Itu mobil inventaris masjid.
Akhirnya saya jadi pulang nengokin bapak-ibuk saya dengan diantar rame-rame oleh keponakan, anak, dan teman dekat suami saya..tentu dengan mobil inventaris masjid tersebut.

  Sesampainya di rumah orangtua saya, kami disambut oleh ibu muda saya yang usianya 27 tahun lebih muda dari bapak saya dan 6 tahun lebih tua dari saya. Iyaa..ibuku yang ketiga ini masih muda dan cantik sekali, sepertinya dulu beliau kembang desa di kampung sejuknya. 

Ibu mengatakan bahwa duda yang mau melamarku lumayan ganteng, intinya ibu setuju jika saya menikah dengan duda tersebut. Begitu pula bapak, beliau tak banyak komentar tentang orang- orang yang mau melamar saya meskipun dulu ada pria lajang yang mau melamar saya dan cuma lulusan SD beliau setuju- setuju saja.

Apalagi ini sarjana agama...

  Sebulan kemudian bapak telah benar - benar menikahkan saya dengan duda tersebut, kata bapak seorang wanita tak pantas jika menolak lamaran seorang lelaki.

Hihi, padahal yang sempat saya tolak juga sudah beberapa.

Dan sebulan setelah saya menikah dengan duda yang sekarang telah menjadi suami saya, saya telah mulai mengandung anak saya yang pertama yang kelak akan kami beri nama Hani Libya Alkaysa.

  Saat mengandung yang pertama kali..itulah saat-saat terberat dalam kehidupan saya yang saat itu belum bisa menyikapi kondisi ibu kandung saya yang sejak diceraikan oleh bapak, ibu menjadi pengidap skizofrenia..tak ada satu orangpun yang bisa memahami ibuk. 

Saat itu saya benar - benar depresi dan belum sempat terbersit di benak saya untuk ceck- up kesehatan mental saya ke psikolog. 

Seharusnya disaat seorang wanita hamil untuk yang pertama kali, sosok ibulah yang dijadikan tempat untuk bertanya ini-itu..seperti umumnya teman-teman saya. Tetapi saat itu saya tidak bisa melakukannya..ibu belum bisa diajak berkomunikasi secara intensif seperti saat ini.

        Bersambung...

Belajar Sensori Play

Kemarin-kemarin saya mendapatkan beberapa materi dari grup whattsapp Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) yaitu tentang permainan sensori y...